Skip to Content
Induk gajah sumatera dan anaknya berdiri berdampingan di padang rumput Way Kambas, belalai keduanya saling bersentuhan

SAI Lestari · Jejak Aksi & Edukasi Konservasi

Belalai kecil itu berpegang pada induknya.

Di belakang mereka terbentang Mentru Kembar, sepetak padang dan hutan yang lima tahun terakhir selalu berada di jalur api. Ini cerita tentang sekolah, warga desa, dan penjaga taman nasional yang memutuskan untuk tidak membiarkannya terbakar.

Mentru Kembar · Resort Susukan Baru · Taman Nasional Way Kambas · Lampung Timur

Foto: ALeRT/Edi Santoso

Gulir untuk mengikuti ceritanya

Babak 01 · Kenapa titik ini

Benteng terakhir sebelum api masuk ke kawasan inti

Resort Susukan Baru berada di sisi kawasan yang paling sering bersinggungan dengan kebakaran lahan setiap musim kemarau. Mentru Kembar berdiri persis di antara sisi itu dan kawasan inti Taman Nasional Way Kambas.

Kalau garis ini jebol, api tidak berhenti di padang rumput. Ia masuk ke ruang hidup harimau, gajah, tapir, dan trenggiling.

Karena itu prioritas kerjanya sederhana: ada orang di titik itu sebelum apinya ada.

Tunas muda berdaun hijau tumbuh dari ujung ranting kering bekas terbakar di tengah padang rumput
November 2025: tunas tumbuh dari ranting bekas terbakar. Alasan seluruh kerja ini bisa dimuat dalam satu foto.Foto: ALeRT/Edi Santoso

Babak 02 · Siapa yang tinggal di sana

31 spesies

satwa liar tercatat di area restorasi Mentru Kembar sepanjang 2025, dari pengamatan langsung dan kamera jebak yang bekerja diam-diam siang malam.

21Burung
7Mamalia
1Primata
2Reptil
6Terancam (CR·EN·VU)
Harimau sumatera melintas di depan kamera jebak pada malam hari, loreng terlihat jelas dalam citra inframerah

Harimau Sumatera

Panthera tigris sumatraeKritis · CR
Kawanan gajah sumatera merumput di padang terbuka menjelang senja

Gajah Sumatera

Elephas maximus sumatranusKritis · CR
Tapir asia dengan punggung pucat khasnya tertangkap kamera jebak di lantai hutan malam hari

Tapir Asia

Tapirus indicusGenting · EN
Kijang muncak berbulu cokelat kemerahan berdiri di antara semak hijau, tertangkap kamera jebak siang hari

Kijang Muncak

Muntiacus muntjakKamera jebak 2025

Foto: ALeRT/Edi Santoso

Jejak tapak harimau di tanah basah dengan ponsel diletakkan di sebelahnya sebagai pembanding ukuran, dicatat tim patroli November 2025
Tapak harimau, dicatat tim patroli 3 November 2025.Foto: ALeRT/Edi Santoso
Trenggiling Sunda juga masih memakai ruang ini. Selama nama-nama itu terus tercatat, kawasan ini hidup.
Truk pemadam bergerak di tengah padang yang hangus, asap putih tebal mengepul menutupi ilalang di sekitarnya
Pemadaman kebakaran lahan di kawasan, 2025.Foto: ALeRT/Edi Santoso

Babak 03 · Yang mengancam

Api datang tiap kemarau

Kadang dari lahan sebelah, kadang dari dalam kawasan. Yang membedakan hasil akhirnya cuma satu hal: seberapa cepat ada orang di titik itu. Karena itu camp dijaga 1×24 jam, sekat bakar dibangun sebelum kemarau, dan patroli berangkat tiap hari, supaya ancaman kebakaran tidak sempat tumbuh menjadi kerusakan yang lebih besar.

Sepanjang periode program, tim ALeRT mendukung Balai TNWK dalam pemadaman api pada 15 dari 23 kejadian kebakaran hutan di kawasan.

Tim pemadam dengan truk biru bekerja di tepi vegetasi yang terbakar dan berasap Regu pemadam menyemprot bara di lahan hangus dari atas truk, Oktober 2025 Kabupaten Lampung Timur Belasan anggota tim pemadam berpose di atas dan di sekitar truk tangki merah usai pemadaman Petugas dengan tangki semprot punggung memadamkan api yang merambat di ilalang Truk pemadam mendekati garis api dengan asap membubung di padang rumput, November 2025 Empat pemotor patroli melintasi padang ilalang tinggi di area restorasi

Dokumentasi pemadaman dan patroli 2025.Foto: ALeRT/Edi Santoso

Babak 04 · Yang dikerjakan

Empat kata kerja yang menahan api

Restorasi bukan satu proyek besar, melainkan empat pekerjaan sederhana yang diulang terus-menerus.

01 · Jaga

Camp tidak pernah kosong

Penjagaan 1×24 jam, patroli rutin, sekat bakar, dan deteksi dini. Tugasnya satu: memastikan api yang muncul tidak sempat membesar.

Jalur sekat bakar rapi membelah lahan restorasi dengan barisan tanaman muda di kedua sisinya Gerbang kayu Camp Mentru Kembar Restorasi Resort Susukan Baru dengan traktor dan warga di baliknya

Foto: ALeRT/Edi Santoso

02 · Tanam

21.500 bibit, sepuluh jenis

Semua jenis asli habitat ini, dari mentru yang memberi nama kawasan sampai gaharu dan kedaung. Selama periode program, penanaman telah dilakukan pada dua hektar di Restorasi Mentru Kembar dan Timbangan, dan pembibitan terus berjalan.

Ribuan polybag bibit tersusun rapat di bawah naungan jaring peneduh pembibitan Dua pekerja menyortir dan mengisi polybag bibit di bedeng pembibitan Bibit pohon setinggi dada tumbuh rimbun dan hijau di area pembibitan Barisan bibit jambon berdaun lebar dalam polybag hitam siap tanam
NoJenis bibitNama ilmiahJumlah
1Mentru / PuspaSchima wallichii9.000
2JambonAnthocephalus cadamba4.000
3JengkolArchidendron pauciflorum3.000
4SalamSyzygium polyanthum2.000
5KedaungParkia timoriana1.500
6WaruHibiscus tiliaceus850
7KetapangTerminalia catappa750
8SungkaiPeronema canescens200
9GaharuAquilaria malaccensis200
10KecapiSandoricum koetjape50
Total21.500

Geser tabel ke samping di layar kecil →

Capaian pembibitan per Januari 2026, laporan kegiatan SAI Lestari.Foto: ALeRT/Edi Santoso

03 · Rawat

Setahun merawat camp

Camp yang sama, dipotret Februari 2025 dan Februari 2026. Perbaikan akses jalan, penyulaman tanaman, dan pemeliharaan bibit berjalan di antara dua foto ini.

Camp Mentru Kembar Februari 2025: bangunan berangka kayu dengan terpal biru robek dan material berserakan di tanah
Februari 2025
Camp Mentru Kembar Februari 2026: bangunan berdiri rapi berpapan informasi, halaman bersih dan pepohonan tumbuh di sekitarnya
Februari 2026
Petugas dengan mesin pembabat membersihkan gulma di antara tanaman restorasi Tim lapangan berdiri bersama di dalam tegakan hutan muda hasil restorasi

Foto: ALeRT/Edi Santoso

04 · Ajak

Rasa memiliki lintas generasi

Siswa datang untuk ekspedisi dan belajar, warga Desa Taman Fajar bergotong royong. Tujuannya bukan hanya restorasi, tapi memastikan ada yang meneruskan.

Seorang siswa berjongkok menanam bibit pohon setinggi lututnya di padang rumput Rombongan siswa berseragam biru mengamati alam dengan teropong didampingi fasilitator Rombongan siswa dan pendamping berfoto di depan gerbang camp restorasi Mentru Kembar Warga desa dan tim SAI berkumpul bersama di teras rumah sambil mengangkat salam kompak

Foto: ALeRT/Edi Santoso

Babak 05 · Tiga tahun, satu titik

Kamera drone berdiri di titik yang sama tiga kali. Yang berubah bukan sudutnya.

Foto udara Mei 2023: lahan restorasi masih didominasi tanah terbuka kecokelatan dengan jalur kendaraan membelah tengahnya
Mei 2023 Titik mula. Tanah terbuka, bekas terbakar berulang. Camp kecil di kejauhan jadi satu-satunya tanda ada yang menjaga.
Foto udara November 2025: lahan yang sama mulai tertutup vegetasi hijau muda dengan pohon-pohon menyebar makin rapat
November 2025 Dua setengah tahun kemudian. Hijau mulai menutup, pohon muda menyebar dari tepi ke tengah.
Foto udara April 2026: hamparan hijau menyambung dari padang ke tegakan hutan, camp dan pembibitan terlihat di tengah vegetasi rapat
April 2026 Hijau menyambung dari padang sampai tegakan hutan. Pekerjaan belum selesai, tapi arahnya tidak lagi diragukan.
Foto udara larik-larik tanam memanjang teratur di lahan restorasi, garis-garis hijau bibit mulai menutup permukaan tanah
Larik tanam dari udara. Garis-garis rapi itu bibit yang sedang menutup tanah, satu baris demi satu baris.Foto: ALeRT/Edi Santoso

Babak 06 · Yang kembali

Kamera jebak tidak tahu sedang memotret siapa

Justru karena itu datanya jujur. Ketika hutan mulai pulih, penghuninya kembali lewat depan lensa, tanpa diundang, tanpa diatur.

Musang tenggalung bercorak loreng hitam putih menoleh ke kamera pada malam hari
Musang tenggalung
Burung sepah hutan jantan berbulu jingga terang bertengger di ranting
Sepah hutan
Burung raja udang meninting berbulu biru terang berdiri di dahan di antara dedaunan
Raja-udang meninting
Kepala biawak air dari dekat dengan lidah bercabang menjulur
Biawak air
Burung pelatuk berbulu belang bertengger tegak di batang pohon muda
Pelatuk
Burung kepodang berbulu kuning keemasan bertengger membelakangi kamera di dahan
Kepodang

Foto: ALeRT/Edi Santoso

TaxaSpesiesCRENVULC
Burung (Aves)2100120
Mamalia72113
Primata10100
Reptil20002
Total 20253122225

Geser tabel ke samping di layar kecil →

Spesies satwa liar di restorasi Mentru Kembar 2025, dikelompokkan menurut IUCN Red List (CR kritis · EN genting · VU rentan · LC risiko rendah).

Kawanan belasan gajah sumatera termasuk beberapa anak gajah merumput bersama di padang hijau, difoto dari udara
Kawanan gajah, dengan beberapa anak di tengahnya, merumput di padang yang dulu langganan terbakar. Foto udara, 2025.Foto: ALeRT/Edi Santoso

Babak 07 · Tiga dampak

Dari diskusi menuju eksekusi nyata

Kolaborasi Sekolah Alam Indonesia, Pemerintah Daerah Lampung Timur, ALeRT, Balai TNWK, dan masyarakat Desa Taman Fajar bergerak di tiga jalur sekaligus.

Environmental Impact

Lingkungan

  • Restorasi hutan Mentru Kembar: penanaman, penyulaman, pemeliharaan bibit
  • Penanaman 2 ha di Restorasi Mentru Kembar dan Timbangan
  • Pembibitan 21.500 bibit dari 10 jenis
  • Monitoring biodiversitas dengan kamera jebak
  • Patroli rutin, penjagaan camp 24 jam, deteksi dini kebakaran
  • Penanggulangan konflik gajah–manusia: kanal, lampu, edukasi

Social Impact

Sosial

  • Pembangunan Pendopo Konservasi sebagai pusat edukasi & koordinasi
  • Keterlibatan aktif masyarakat desa penyangga di tiap kegiatan
  • Pendampingan sekolah & siswa: ekspedisi, pembelajaran, kurikulum konservasi
  • FGD, studi banding, dan wawancara warga
  • Penguatan kapasitas pencegahan kebakaran & pengamanan hutan
  • Koordinasi multipihak: pemda, sekolah, ALeRT, Balai TNWK, perusahaan, masyarakat

Economic Impact

Ekonomi

  • Pendopo Konservasi sebagai pusat inkubasi & sentra UMKM desa
  • Pengembangan sentra UMKM hijau berbasis produk lokal
  • Pilot project pertanian berkelanjutan di Desa Taman Fajar
  • Studi banding pengembangan ide usaha unggulan desa
  • Pendampingan usaha & peningkatan kapasitas wirausaha
  • Dukungan pendanaan program melalui CSR, donasi, dan kolaborasi

Babak 08 · Babak berikutnya

Pendopo Konservasi: meja yang sama untuk semua

Januari 2026, batu pertama diletakkan di Desa Taman Fajar. Bangunan ini bukan kantor, melainkan tempat warga desa, guru, siswa, pemerintah daerah, dan penjaga taman nasional duduk di meja yang sama: pusat edukasi konservasi sekaligus inkubasi UMKM hijau desa penyangga.

Peletakan batu pertama Pendopo Konservasi: warga dan tamu mengelilingi galian pondasi sementara dua orang menata batu pertama Musyawarah warga duduk melingkar beralas karpet di teras rumah membahas rencana pendopo Tamu undangan dan tokoh masyarakat duduk bersama pada acara dimulainya pembangunan Pendopo Konservasi Rombongan studi banding berfoto bersama di halaman bangunan percontohan berpergola kayu

Foto: ALeRT/Edi Santoso

Balai TN Way Kambas ALeRT Pemkab Lampung Timur Desa Taman Fajar Sekolah Alam Indonesia

Babak 09 · Giliran Anda

Cerita ini masih ditulis. Ikutlah menulisnya.

Berkolaborasi

Perusahaan dan lembaga bisa ikut lewat program CSR: mendanai bibit dan penanaman, mendukung patroli dan sarana pemadaman, atau membangun Pendopo Konservasi bersama warga Desa Taman Fajar.

Bagikan ceritanya

Semakin banyak orang tahu Mentru Kembar, semakin kecil kemungkinan ia dibiarkan terbakar. Satu tautan cukup untuk memulai.

WhatsApp X Facebook

Dokumentasi bersama Balai TN Way Kambas · ALeRT · Sekolah Alam Indonesia

Seluruh data dan foto di halaman ini bersumber dari laporan kegiatan program SAI Lestari (pemeliharaan reforestasi Mentru Kembar, Resort Susukan Baru, SPTN 1 Way Kanan, Taman Nasional Way Kambas, progress update Januari 2026) serta infografis kolaborasi SAI Lestari. Kredit foto: ALeRT/Edi Santoso. Selengkapnya tentang Sekolah Alam Indonesia di sekolahalamindonesia.sch.id.